Selamat datang di Museum Batik Danar Hadi

JALAN Slamet Riyadi No. 261, Sriwedari, Laweyan,
Kota Surakarta
N/A

Museum Batik Danar Hadi  terletak di jalan Brig. Jen. Slamet Riyadi No. 261 Surakarta, tepatnya di dalam kompleks nDalem Wuryaningratan, sebuah kompleks yang dulu merupakan tempat kediaman keluarga K.R.M.H. Wuryaningrat, menantu dan juga sekaligus Pepatih dalem dari raja Kasunanan Surakarta saat itu yakni Pakoe Boewono ke X.

nDalem Wuryaningratan yang berarsitektur Jawa kuno ini dibangun kurang lebih pada abad ke XIX (kira – kira pada tahun 1890) oleh seorang arsitek dari negeri Belanda. Hal itu terlihat pada tampak depan bangunan yang bernuansa Eropa, namun tata ruangnya tetap mengikuti konsep rumah adat Jawa yang terdiri dari Pendapa, Pringgitan, nDalem Ageng, Gandhok kiwa (kiri) dan Gandhok tengen (kanan), serta sebuah ruangan keluarga yang ditata dengan gaya Eropa.

Sebagaimana rumah – rumah bangsawan pada masa itu, maka ndalem Wuryaningratan pun memiliki halaman yang sangat luas. Dan ditempat inilah Bapak H. Santosa Doellah, Direktur Utama PT. Batik Danar Hadi yang juga seorang kolektor batik kuno mendirikan museum batik sebagai obsesi, komitmen dan dedikasi beliau pada seni kerajinan batik, yang telah digelutinya sejak usia remaja.

Museum Batik yang terletak di sebelah timur ndalem Wuryaningratan ini oleh Bapak H. Santosa diberi nama “Museum Batik Danar Hadi” dan dibuka secara resmi oleh ibu Hj. Megawati Soekarnoputri pada hari Jum`at tanggal 20 Oktober 2000 semasa beliau menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.

Museum ini dirancang dengan bentuk bangunan yang disesuaikan dengan arsitektur nDalem Wuryaningratan. Ruangan di dalam museum terbagi menjadi sebelas ruangan, yang dipergunakan untuk memajang koleksi batik kuno Bapak H. Santosa Doellah yang terbagi menjadi sembilan jenis batik, sesuai dengan tema dari museum yaitu “Batik Pengaruh Zaman dan Lingkungan”.

Ke sembilan jenis batik tersebut adalah: Batik Belanda, Batik Cina, Batik Djawa Hokokai, Batik Pengaruh India, Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik Sudagaran dan Batik Petani, Batik Indonesia, dan Batik Danar Hadi. Pemilihan tema seperti tersebut di atas tak lepas dari pengalaman dan pengamatan bapak H. Santosa yang sejak usia 15 tahun sudah menekuni, menggeluti dan meneliti seni kerajinan batik.

Menurut beliau sehelai wastra (kain) batik pada warna dan  polanya akan dipengaruhi oleh zamannya dan atau lingkungannya. Sebagai contoh misal pada “Batik Belanda”, batik ini disebut demikian bukan karena berasal dari Belanda, akan tetapi pola pada batik tersebut dipengaruhi oleh budaya Belanda / Eropa, karena batik – batik ini dibuat sekitar tahun 1840 – 1910 saat Indonesia berada di bawah penjajahan Belanda, sehingga akan dijumpai pola dengan tema cerita “Snow Hhite”, “Little Red Riding Hood”, Hanzel and Gretel”, demikian pula jenis batik yang diberi nama Batik Cina, bukanlah karena dibuat di Cina, melainkan mendapat pengaruh dari budaya Cina (Tionghoa), misalnya pola – pola dengan ragam hias burung Hong (Phoenix Bird), Kelelawar, Kura – kura, dan ragam hias Banji (seperti Swastika).

Latar belakang pendirian museum ini berawal  dari keprihatinan  dan obsesi bapak H. Santosa terhadap pelestarian dan pengembangan seni kerajinan batik serta  minimnya apresiasi masyarakat terutama generasi mudanya terhadap seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa . Dengan berbagai macam koleksi yang beliau miliki dan telah beliau kumpulkan sejak tahun 1967, baik yang berasal dari leluhur – leluhur beliau maupun pembelian dari para kolektor yang jumlahnya hampir mencapai 10.000 (sepuluh ribu) potong, beliau berkeinginan  menampilkan koleksinya tersebut secara bertahap dan bergantian serta menatanya dengan cara yang berbeda dari museum – museum yang sudah ada di Indonesia, dengan maksud untuk lebih menarik minat pengunjung terutama generasi muda.

Dengan penataan ruangan yang mempunyai konsep dan tema berbeda, nyaman dan tidak terkesan kuno dengan memadukan perangkat – perangkat etnik Jawa maupun perangkat lain yang disesuaikan dengan kain batik yang dipajang   menjadikan museum ini berbeda dengan museum – museum lainnya.

Pada dasarnya tujuan didirikannya “Museum Batik Danar Hadi” ada tiga, yaitu:

  1. Untuk melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan batik;
  2. Untuk menambah sarana pendidikan dan pengetahuan khususnya di bidang seni kerajinan batik;
  3. Menambah obyek wisata di kota Surakarta khususnya, yang merupakan kota budaya dan Indonesia pada umumnya.

Di kompleks nDalem Wuryaningratan ini juga terdapat showroom yang menjual berbagai macam produk dari  PT. Batik Danar Hadi, juga sebuah restaurant yang diberi nama Soga Resto and Lounge. Fasilitas lain yang bisa didapati adalah dua buah function room yaitu Pendapa nDalem Wuryaningratan dan Sasono Mangunsuko, ruangan yang biasanya dipergunakan untuk menyelenggarakan paket – paket  Wisata Budaya Terpadu Museum Batik  Danar Hadi.

Dengan demikian di kompleks ini dapat diciptakan tujuan wisata dengan konsep “One Stop Shopping dan One Stop Batik Adventure”, sehingga wisatawan bisa menghemat waktunya.

Sejak didirikannya Museum Batik Danar Hadi banyak manfaat yang didapat baik secara internal maupun eksternal. Manfaat internal yang dimaksud adalah sejak adanya museum tersebut, maka telah diselenggarakan in house training bagi para Pimpinan toko RBDH (Rumah Batik Danar Hadi), Supervisor toko dan mereka yang merupakan ujung tombak terutama di bagian penjualan mengenai seni kerajinan batik berikut prosesnya, yang saat ini sudah mencapai angkatan ke VI.

Sedangkan manfaat eksternal adalah bagi para mahasiswa yang sedang menulis skripsi, tesis tidak lagi mengalami kesulitan jika melakukan penelitian yang  ada kaitannya dengan seni kerajinan batik, baik tentang prosesnya, polanya, filosofi serta sejarahnya, dan hal – hal lain yang berkaitan dengan batik.

Selain itu bagi para pengrajin kecil, museum ini juga bermanfaat untuk menambah wawasan, ide atau gagasan produk mereka dan juga untuk berkonsultasi. Dan tentu saja dengan berdirinya Museum Batik Danar Hadi, maka pilihan obyek wisata yang bisa dikunjungi di kota Surakarta semakin beragam.

Citra perusahaan pun bertambah positif dimata masyarakat, sebab dengan persaingan yang semakin ketat di era globalisasi ini diperlukan nilai tambah dari sebuah perusahaan untuk membangun  kepercayaan masyarakat memilih sebuah merek tertentu. Masyarakat tentu akan memberikan apresiasi kepada sebuah perusahaan yang tidak semata – mata bertujuan mencari keuntungan namun juga perduli terhadap pelestarian dan pengembangan seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa. Dan PT. Batik Danar Hadi adalah satu – satunya perusahaan batik yang memiliki museum batik serta menerbitkan buku batik dengan judul “Batik, Pengaruh Zaman dan Lingkungan” sama dengan tema yang dipakai oleh Museum Batik Danar Hadi.

Penghargaan – penghargaan yang didapat oleh Bapak H. Santosa terkait dengan pendirian museum tersebut pun diberikan oleh Pemerintah maupun swasta, yaitu:

 

  1. Penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI Award) pada tahun 2000;
  2. Penghargaan dari Menteri Perdagangan dan Perindustrian R.I.sebagai Usaha Pelestari Budaya Indonesia pada tahun 2003;
  3. Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai Museum dengan koleksi terbanyak pada tahun 2005;
  4. Penghargaan dari Menteri Perdagangan R.I. sebagai Pelestari dan Pengembangan Kain Nasional pada tahun 2005;
  5. Penghargaan dari Museum Rekor Dunia – Indonesia sebagai Museum dengan koleksi ragam hias motif peranakan Cina terbanyak pada Februari 2010;
  6. Penghargaan dari Museum Rekor Dunia – Indonesia kepada Bapak. H. Santosa Doellah sebagai Kolektor Motif Peranakan Cina dengan ragam terbanyak pada Februari 2010;
  7. Penghargaan / penganugerahan gelar “Empu Batik” dari Institut Seni Indonesia, Surakarta pada tanggal 29 Februari 2012.
  8. Pemenang “Excellent Award” dari Trip Advisor tahun 2013, 2014, dan 2015.
  9. “Travelers’ Choice” dari Trip Advisor tahun 2013, 2014, dan 2015.
  10. Nominator kategori “Museum Cantik” (Engaging Museum) pada Museum Awards ke – 4 tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Komunitas Jelajah Jakarta.

Usia Museum Batik Danar Hadi kini menginjak hampir limabelas tahun, namun masih banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi demi untuk melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan batik yang merupakan warisan budaya bangsa. Semoga apa yang telah  dikerjakan melalui keberadaan museum ini dapat membantu usaha – usaha kita semua di dalam melestarikan budaya bangsa.

 

Museum Batik Danar Hadi
Jl. Brig. Jen. Slamet Riyadi No. 261
Surakarta 57141
Telp. (0271) 714326, Ext. 104;  Fax. (0271) 714253.
Email : museumbatikdanarhadi@gmail.com

VIDEO MUSEUM BATIK DANAR HADI

Jumlah Pengujung Website

N/A

© 2021 RadyaPustaka.id Copyright All Right Reserved

id_IDID